Posted by: shaqi on: Agustus 13, 2008
Tengah malam, Musik pengiring : My Bonie (Pancaran Sinar Petromak) “..Oh bring bek mai boni tu mi!!!” mengalun indah.
Ternyata jadi seorang pengangguran itu sangat membosankan. Paling menghabiskan waktu dengan tidur siang, main game atau nonton TV. Bayangkan betapa membosankannya hari-hari kalian bila hanya melihat monitor dan di suguhi tontonan darah, pembunuhan, bualan, kisah2 perselingkuhan cinta segi tiga, kontes2 busuk, lagu2 cengeng dan lawakan2 yang garing. Saya ingin bergerak! Menggergaji, memukul, mencoret, membuat sebuah Masterpiece kemudian menghancurkannya. Apa saja yang bisa mengusir kebosanan. Berkarya!!! Aku ingin berkarya!!! Sebuah karya monumental!!! Tapi perhatian saya teralihkan…
“SBY-JK MANA JANJIMU!?” itu sebuah tulisan demonstran yang saya lihat di TV. Ada juga yang lain “BBM NAIK RAKYAT LAPAR!”. Sang penguasa negeri berdusta. Kemudian anak2 pengamen yang sedang di gusur di pertontonkan. Tak ketinggalan harga sembako naik sampai 70%. Dan segala kegilaan lain yang membuat kehidupan makin berat. Kesalahan yang di ulang2. Pemimpin dan pejabat tak mau belajar dari pengalaman. Solusi yang di tawarkan di acara-acara debat maupun parodi politik di TV tak ada yang benar2 mampu menyelesaikan masalah. Begitu pula buku2 politik, isinya tak mampu beri solusi. Orang2 tua sibuk mencari uang (sambil mencuci tangan?). Mereka berjuang mempertahankan hidup. Sementara yang muda bersenang-senang. Mabuk, menipu, membolos, memalak, pacaran, bergaya sok kaya, sok pinter dan semua sampah2 peradaban. Hanya beberapa gelintir yang berjuang. Berteriak-teriak dan seruan mereka di acuhkan.
Ini dia omong kosong demokrasi. Ide khayalan yang amat di agung-agungkan di paksa menjadi system kehidupan. Mati2an di bela, bahkan oleh mereka yang tertindas. Jika demokrasi bener2 sistem yang mampu mensejahterakan kenapa masih ada orang yang berpanas-panasan demonstrasi meminta harga BBm turun? Bukankan seharusnya mereka berleha-leha tidur siang karena kekenyangan? Masih proses? Indonesia sudah merdeka setengah abad lebih oy! Fakta sudah membuktikan. “Konsep Tolol Ekonomi…jelata gigit jari”, Begitu purgatory (sebuah band) berteriak-teriak dalam lagunya. Dan fenomena lain seperti di gusurnya para gelandangan dan pengamen tanpa di beri modal untuk bertahan hidup adalah pembunuhan secara perlahan. Kekonyolan seperti kewajiban belajar 9 tahun tetapi dengan biaya mahal dan system pendidikan yang aneh adalah pemerasan dan pembodohan. Pendidikan gratis? Kapan? Ada punglinya (Pungutan Liar) nggak? Guru masih kurang gaji pasti cari “tambahan penghasilan”. Kesehatan? Mahal nian..Orang miskin di larang sakit! Konversi minyak ke gas? Kompor gasnya ternyata banyak yang rusak! Mana bisa orang masak pake kompor rusak? Solusi BLT Plus (Bantuan Langsung Tunai) apa gunanya? Plus-nya plus ngantri berjam-jam sampe sekarat. Rawan korupsi!!! Lagi pula uang 100.000 apakah seimbang dengan harga sembako dan minyak yang “sangat murah”? RASKIN pun kenyataanya banyak di gelapkan. (Coba deh baca Koran yang agak lamaan, banyak berita kayak gini. Klo mau yang anget ntar Koran bekas bungkus martabak). Dua solusi itu tidak pernah tepat sasasran. Lha data penduduk miskinnya aja ngga akurat. Klaupun sesuai target pasti akan membuat rakyat bergantung pada BLT dan RASKIN. Saya pikir lebih baik dana BLT dan RASKIN di berikan sebagai modal rakyat untuk bekerja. Walaupun tidak menjamin kemakmuran setidaknya itu lebih baik. Anda kreatif? Silahkan tambah daftar penderitaan rakyat. Demokrasi udah ngasih rakyat apa? Hadiah kelaparan?
Ada suatu kasus tentang kematian seorang kakek di suatu desa. Si kakek meninggal secara normal, karena umur yang tua dan penyakit yang parah. Berobat sudah kesana kemari. Namun semua usahanya tak mampu menahan malaikat maut untuk menangguhkan kematiannya. Keanehan justru terjadi ketika jenazah si kakek akan di masukan ke liang lahat. Ketika tali pocong di buka, si mayat kakek berteriak senang, “Eh ketemu lagi!!!”. Kejadian setelah itu kurang jelas sebab nara sumbernya gak bisa di percaya. (Ngacapruk ieu mah).
Yang Ini asli… di suatu daerah beberapa kelompok manusia bahkan mulai berpindah mengkonsumsi singkong dari pada beli beras. Harga singkong masih murah, selembar goceng bisa dapet tiga kilo singkong. Kalo belinya beras cuman sekilo. Itu kata seorang pembeli yang di wawancarai di sebuah Koran. Itu hadiah demokrasi, memaksa rakyat untuk lebih berhemat agar bisa bertahan hidup. Hemat terus mah jadi pelit ama diri sendiri dong. Masa nanti2 hematnya sampe makan sekali sehari sepiring berdua? Kurang gizi dech. Masa badan sendiri gak di kasih gizi? Nutrisi untuk otak? Nomer seribu! Oon gak apa apa yang penting perut kenyang dulu. Tau gak cara khalifah Umar mengatasi krisis tempo doeloe? Khalifah berhenti makan daging ama keju. Tiap hari cuman makan roti kering sama zaitun. Sampai perutnya keroncongan dan sang Khalifah benar2 merasakan penderitaan rakyat. Selain itu beliau menghimbau rakyatnya untuk berhemat. Gak boleh ada perjamuan yang menyuguhkan kombinasi daging dan keju. Menghimbau rakyatnya untuk berinfak. Kas Negara di kasih buat yang bener2 krisis. Tak lupa menyuruh rakyatnya bertobat dan berdoa agar krisis cepat selesai. Akhirnya krisis di lalui. Wakl rakyat yang di pilih dengan demokrasi? Tak pernah saya dengar atau baca ada pejabat Negara seperti itu. Bahkan tokoh2 parpol yang giat mengkritik kondisi Negara. Padahal trik seperti itu bisa di pake kampanye.
Terkait dengan mahalnya BBM, tentu memaksa rakyat untuk hemat juga. Penggunaan kendaraan bermotor semakin berkurang. Asyiik Global Warming sedikit teratasi!!! Saatnya naik sepeda ke sekolah, ke pasar dan ke mana-mana! Tapi harga barang masih mahal cing. Inget kasus pemalakan di D’RISE edeisi tujuh kemarin? Awas aya begal.. itu kemungkinan awal. Kemungkinan lainnya, jalanan bakal penuh paku, soalnya tukang tambal ban sepeda perlu duit juga. Udah gitu, biaya nambal ban seharga dengan satu liter bensin (waks!parah amat!). Kas Negara pun menipis karena berbagai hal. Inget, pemasukan kas terbesar negeri kita ini adalah pajak.Maka sepeda pun pake pajak. Nggak lupa, yang naik sepeda wajib pake helm, punya SIM, dan pake sabuk pengaman. Yang ga pake kena tilang. Ujungnya nyikreuhlah(artinya kira2 jalan kaki) rakyat Indonesia. Nyikreuh yang saat ini adalah my way akan jadi your way. Yes, nyikreuh is our way…
Saya jadi inget filosofi tangan (sebut aja gitu) yang saya dengar dari seorang punakawan berkulit hitam. Katanya kalu kita mengacungkan jari telunjuk menuduh orang lain, sebenarnya jari yang lain justru menuduh diri sendiri. Dari tadi saya bicarakan ide2 dan solusi orang lain. Saya bosan dan tentu kalian pun pasti muak. Kita perlu solusi baru! Bagaimana kalu Negara ini kita bubarkan saja? Seperti kata guru saya, ganti nama negaranya, ganti pemimpinnya, ganti pejabatnya, pokonya ganti semuanya!!! Hehehe tidak seperti itu kok. Revolusi, Revolusi dengan system Islam. Revolusi yang tidak berdarah. Seperti yang telah terjadi pada Islam ketika Negara Islam pertama kali terbentuk di Madinah. Dengan kehidupan rakyat yang makmur. Bahkan 12 abad khilafah (Negara Islam) berdiri kasus pencurian hanya 200 kasus. Saking makmurnya! Ini bukan teori, bukan khayalan, Islam telah berhasil di terapkan di masa lalu dan pasti kesuksesan itu akan terulang. Bila seluruh umat mengerti akan pentingnya Syariah Islam, maka apa yang akan menghalangi revolusi damai?
Nah kembali dengan demokrasi. Kedaulatan di tangan rakyat cuman retorika. Dengan realita seperti ini semua kebohongan harus di akhiri. Pecat saja langsung pemimpin dan pejabat2nya. Bukankah yang mengangkat mereka itu kalian, hai rakyat!? Bukankan kalian itu berkuasa? Akhiri penipuan besar2an ini! Mari hancurkan Demokrasi!!! Jangan sampai demokrasi membuat nyikreuh menjadi our way!!
DOWN DOWN KUFR, RISE RISE ISLAM!!!
[Traumatic Brain Injury]