d’RiseZine Blog

Elegi Fadli (I am Ngalangkung/D’Rise ed#009)

Posted by: shaqi on: Agustus 13, 2008

               Anak kecil itu bernama Fadli. Di rubric baru D’RISE ini dia bakal ngalangkung dan mencoba berbagi apa yang di milikinya dengan D’RISER yang terhormat. Oya sebelumnya bakal di jelaskan dulu rubric baru D’RISE ini. Rubrik ini khusus mengkupas jalan hidup dan pengalaman seorang tokoh yang masih hidup dan ada di alam nyata, bukan di alam khayalan. Dengan rubric ini juga pengen kita kenalin sodara kembarnya si pocong, yaitu si tuyul. Si Tuyul inilah yang menangani rubric I am ini. Kemarin si tuyul baru ngelamar kerja ma si pocong, makanya si tuyul langsung di masukin ajah ke squad wartawan D’RISE. Si pocong mau nerima si Tuyul kerja di D’RISE karena si Tuyul rela kerja di D’DRISE nggak di bayar (kerja bakti gitu), biarlah Allah yang bayar, kata si tuyul (fiktif). Lagian si tuyul makan angin  juga kenyang. Kalo makan angin di suruh bayar, baru tuyul minta bayaran ke si pocong (lagi2 fiktif). Semoga dengan adanya rubric ini kita semua bisa menjalani hidup dengan lebih bijaksana. Karena kebijaksanaan akan lahir dari sebuah proses kehidupan. Karena itulah kita harus terus mempelajari berbagai sisi dari berbagai proses kehidupan dari banyak pengalaman orang. Semoga dari pengalaman2 itu kita banyak mengambil pelajaran.

               Pertemuan Tuyul dengan fadli terjadi tanpa sengaja. Malam minggu tuyul ikutan sebuah acara mabit (nginep di masjid untuk belajar Islam) yang diselenggarakan di sebuah mesjid tak jauh dari lapdek. Karena tuyul datang lebih awal, maka tuyul maen2 dulu ke lapdek. Hari sudah lumayan malam sekitar jam7. Saat tuyul memasuki lapdek dari arah tangga yang di seberang gedung juang tuyul langsung teringat dengan petualangan sodara kembar tuyul di X Mission pertama kali edisi dua. Waktu itu isinya meriksa malam mingguan di Lapdek dan beberapa kawasan di Sukabumi. Saat itu juga tuyul liat lapdek rame seperti malam2 minggu kebanyakan. Tuyul menuruni anak tangga dan langsung menyatu dengan aroma syahwat yang  hangseur. Di kanan kiri tuyul liat cewe2 seksi dan pasangan haram yang pada pacaran. Perut tuyul rada keroncongan. Akhirnya tuyul nyari gorengan di sana untuk meredam demo cacing di perut tuyul. Beli gorengan rada banyak: enam rebueun. Melengganglah tuyul dengan sekantong gorengan kearah aula yang ada di dekat tiang bendera di samping GOR. Di undakan tangganya tuyul ada segerombolan pengendara motor yang mahir berakrobat.

               Tuyul asyik ngunyem2 gorengan sambil mengedarkan pandangan. Awalnya tuyul ngga terlalu merhatiin, mendekatlah seorang anak kecil berkaos merah, menenteng sebuah kait besi dan memanggul sebuah karung besar yang isi nya baru setengah. Tuyul duduk di anak tangga teratas. Di sebelah tangga itu ada sebuah tong sampah. Anak itu memeriksa isi tong sampah itu, sayangnya dia tak menemukan apapun yang di carinya. Tuyul masih ngga terlalu peduli, tapi kemudian tuyul liat anak itu duduk di anak tangga yang paling bawah. Tuyul liat sepertinya dia lelah sekali. Tuyul mengambil sepotong gorengan dan mencolek anak itu dari belakang.

               “Eh mau gorengan ga?’. Anak itu mengambil gorengan tuyul dalam diam. Insting wartawan tuyul langsung bangkit. Tuyul jadi berhasrat untuk wawancara tu anak. Akhirnya tuyul turun dari anak tangga yang sedang tuyul duduki dan pindah duduk ke sebelah anak itu. Ini dia ngalangkungnya.

               “Nama Kamu Siapa?”, Tuyul memulai; “fadli”; ekspresinya kosong. “ Kamu ga takut jalan2 malam kaya gini?”; “Nggak”; “Rumah kamu di mana?”; “Di babakan bandung a”; “Deket apa jauh?”, tuyul belom pernah denger ada daerah namanya Babakan Bandung. Tau di sebelah mananya Bandung tuh ; “Deket, a” ; “Kamu masih sekolah?”; “Masih”; “Kelas berapa?”; “kelas enam”; “Kerja sampe malem gini ibu kamu ga nyariin?; “Nggak apa2”; “Kamu tidur di mana?”; “Di gedung Juang”; “Nggak apa2 tidur di situ?; “Nggak”; “Trus kamu ga pulang”; “Pulang’; “Kapan?”; “Dua hari sekali”; di situ tuyul rada bingung, berarti di kayanya ga sekolah tuh. Lha wong pulangnya aja 2 hari sekali; “Bapak kamu kerja apa?”; “Bapak udah meninggal”; waduh tuyul langsung trenyuh nih pas bagian ini, ternyata tuyul berada bersama anak yatim . Salah satu pihak yang kata nabi wajib di santuni; “Ibu kamu kerja apa?”; “Nggak kerja”; “Kamu punya sodara yang deket sama kamu?”; “Nggak punya”; “kamu punya adik atau kakak?”; “Punya adik satu”; “Namanya siapa?”; “Nur”; “Kelas berapa?”; “Kelas satu”; “Kamu kerja kaya gini di jualnya kemana?’; “Ke si Edi”;  (Sori banget ya buat yang namanya Edi. Abisnya si Fadli bilang gitu sih); “Suka dapet berapa?’; “30.000”;; Emang sekilo berapa?; “Kalo aqua gelas sekilo 3.000”; tuyul bingung perlu aqua gelas berapa karung  biar jadi sekilo?; “duit segitu cukup ga buat makan kamu, ibu, ma adikmu?”; “Cukup”; “Kamu kerja ampe malam gini suka di palak ga?”; “Nggak”; “kalo tidur di gedung juang suka di usir gitu ga?”; “Nggak”; “Kalo sekarang mau pulang atau mau ke gedung juang?”; “Mau ke gedung juang?”;  padahal waktu itu si Fadli tuyul liat cuman pake kaos oblong tipis warna merah dan celana sontog. Tuyul nggak ngerti gimana caranya dia ngelawan  dinginnya malam di gedung juang. Bener2 gagah perkasa. Tuyul agak lama tertegun dan diam di sebelah Fadli. Apa yang tuyul bisa lakukan buat Fadli? Apa yang tuyul punya? Buat nerbitin D’RISE aja kata si pocong mpot2an, jadinya ga bisa ngegaji tuyul. Tapi tuyul masih punya sesuatu  yang sangat berharga yaitu pesan. Tuyul berpesan pada Fadli: “Hati2 yah jangan sampe pake narkoba”. Fadli bilang: “Makasih, a”

               Wawancara tuyul akhiri dengan pesan itu karena waktu mabit dah deket. Moga kita semua bisa mengambil pelajaran berharga dari si Fadli. Sebuah pelajaran bahwa ternyata masih banyak orang yang lebih sengsara dari kita, tapi masih menghadapi hidup dengan kuat dan gigih. Namun sampai kapan tubuh mungil Fadli harus menanggung kesusahan hidup itu? Sampai mati? Betapa merana hidup di negeri ini. Dan generasi islam wajib menanggung kewajiban itu. Kewajiban untuk menggulirkan sebuah perubahan total dengan ideology Islam . Agar fadli tak terus menjadi elegi. []

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


  • Tidak ada
  • pasukan garis depan: d'rise knpa g terbit lagi..? kami sngat mnantikan mu..
  • DFTYF: TO TOLONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG, PO PO PO PO CONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.