d’RiseZine Blog

Amor es Perros (Most/D’Rise ed#004)

Posted by: shaqi on: Agustus 13, 2008

                Ketika saya bicara tentang cinta, maka saya merasa kepala saya pusing 8 keliling (biasanya guru olahraga saya nyuruh lari 8 keliling di lapang merdeka, dan itu sudah cukup membuat saya pusing dan ngos-ngosan). Cinta terlalu ambigu dan bias untuk ditafsirkan. Setidaknya begitulah pandangan saya tentang cinta dan pasti kawan kawan pun punya pandangan sendiri tentang cinta di benak kawan-kawan. Maka saya ingin bicara tentang segala makna cinta yang ada di dalam pandangan kita.

               Untuk membuktikan cintanya, si cecep minta kepada si kokom untuk ML dengan nya di kamar kosan. Kalau kokom cinta ma cecep mau gak kokom menyerahkan suatu hal yang paling berharga buat perempuan: keperawanan? Akhirnya kokom menyanggupi. Karena dia cinta pada cecep, maka dia biarkan cecep berbuat “semaunya’ pada dirinya. Itulah cinta dalam pandangan Kokom dan Cecep.

               Tapi dalam pandangan saya itu semua penipuan, bukan cinta. Kokom harus mau di gerayangi oleh Cecep untuk membuktikan cintanya, lalu apa yang harus dilakukan oleh Cecep untuk membuktikan hal yang sama? Setelah melakukan “itu” tak ada yang bisa menjamin Cecep tidak akan memutuskan hubungan cintanya dengan Kokom. Apalagi kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, hamil mislanya, siapa yang bisa menjamin bahwa Ceccep tidak akan kabur begitu saja? Pandangan saya masuk akal ga?

               Seorang bapak memberi makan anaknya dengan uang hasil jualan kupon togel atau jual gele. Dia melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan dan mensejahterakan keluarganya. Semua itu karena dorongan cinta. Begitulah cinta dalam pandangan si bapak itu. Namun dalam pandangan saya itu bukan cinta. Dengan berbuat seperti itu si bapak hanya akan membuat kesejahteraan semu, yang pada suatu hari akan meledak menjadi bencana. Walau terus2an bisa meloloskan diri, siapa yang bisa menjamin si bapak tak akan di ringkus polisi pada suatu hari? Klau si bapak di ringkus polisi siapa yang akan menanggung kesejahteraan keluarganya? Artinya dengan melakukan itu si bapak sedang mempersiapkan kesengsaraan keluarganya sendiri dalam jangka waktu yang lebih panjang. Apalagi dengan melakukan itu dia hanya akan memberi nafkah yang tidak baik yang hanya akan berbuah berbagai macam bencana bagi keluarganya baik di dunia maupun di akhirat.

               Cinta seperti apa lagi? Oke! Karena dorongan cinta orang tua memberikan semua keinginan anaknya. Semuanya.!! Mereka memanjakan anaknya dengan harta. Tak pernah menolak sekalipun keinginan anaknya. Kata mereka itu adalah sebuah dorongan cinta yang sebenarnya. Kalu menurut saya itu bukan cinta. Karena kalu orang tua terus2an melakukan hal itu maka orang tua tak ubahnya seperti tas ajaibnya Dora the Explorer yang bisa mengeluarkan apa saja. Sehingga anak tidak mengetahui bagaimana caranya bersikap terhadap ketidakadaan. Karena boleh jadi suatu hari hidup akan berubah dari berpunya menjadi tidak berpunya. Dan orang tua harus mendidik anaknya dengan tidak selalu memberikan apa keinginan anaknya, agar mereka mengerti dan tau bagaimana caranya bersabar terhadap ketidakadaan.

               Cinta sungguh memusingkan. Sekarang saya akan bercerita tentang cinta di benak saya.

               Cinta adalah pengabdian. Pengabdian yang sangat mendalam. Kesimpulan itu saya dapat begitu lama, setelah saya makan asin dan pahitnya air kehidupan. Setelah saya merasakan bentuk cinta dalam segala rupanya. Setelah saya mendapatkan pengalaman saat saya masih muda dulu (padahal saya belum tua-tua banget sih, baru punya kepala dua).

               Tuhan yang maha agung: Allah SWT berkata dalam ktab-Nya yang Mulia : “Kalau kau mencintai Allah, maka ikutilah aku (maksudnya Rasul). Maka allah akan mencintai dan mengampuni dosa2 mu” (pokonya surat Al-Imran, ayatnya cari sendiri hayo). Realitas absolute adalah Allah SWT. Maka kemudian saya berpandangan, sebuah cinta (kepada siapapun) adalah harus berada dalam kecintaan kepada Allah sekaligus utusanNya(Rasulullah). Cinta adalah saat mengikuti dan mengabdi kepada Allah dan RasulNya (seperti ayat itu). Bukan cinta namanya, kalu tidak dalam rangka mengikuti dan mengabdi kepada Allah SWT dan RasulNya. Cinta yang sebenarnya adalah dalam kecintaan , ketaaatan, pengabdian kepada Allah dan Rasulnya. Cinta kepada sahabat adalah karena Allah memerintahkan kita untuk mencintai orang tua. Allah pun mengajari kita tentang bagaimana teknis mencintai orang tua. Mencintai seorang perempuan pun harus dilakukan dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Karena dalam mencintai perempuan dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya itulah, kita akan benar2 mencintai  perempuan pujaan hati kita. Bukan cinta namanya kalu di ajarkan di luar  cara yang sudah di ajarkan Allah dan RasulNya. Maka taatlah kepada aturan Allah dan RasulNya. Abdikan diri pada syariatNya.

               Begitulah cinta dalam pandangan saya. Begitulah cinta dalam pandangan Islam. Kawan-kawan ikut sajalah, daripada pusing 8 keliling mikirin Cinta.!!! [Namikaze Minato]

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


  • Tidak ada
  • pasukan garis depan: d'rise knpa g terbit lagi..? kami sngat mnantikan mu..
  • DFTYF: TO TOLONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG, PO PO PO PO CONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.